Jasa Marga masih menjadi pemimpin dalam industri jalan tol di Indonesia. Sampai dengan tahun 2018, panjang jalan tol beroperasi yang dikelola oleh Jasa Marga adalah kurang lebih 1000 km atau 66% dari keseluruhan total panjang jalan tol beroperasi di Indonesia.

Para pemegang saham dan pemangku kepentingan yang kami hormati,

Bersama ini kami laporkan hasil jalannya kepengurusan Perseroan sepanjang tahun 2018. Direksi telah memberikan yang terbaik dengan menghasilkan kinerja sesuai dengan harapan para pemegang saham. Sebagai market leader di industri jalan tol, selama tahun 2018, Perseroan terus menambah pengoperasian jalan tol baru. Pada bidang Operasional, Perseroan terus berupaya meningkatkan kinerja layanan pengoperasian jalan tol dan pengembangan bisnis usaha lain, melalui peningkatan kapabilitas Anak Perusahaan dan Usaha Lain.

Dalam laporan ini, kami sampaikan analisis kinerja Perseroan dan prospek usaha Perseroan di masa yang akan datang. Laporan ini juga akan menyampaikan perkembangan penerapan tata kelola perusahaan dan perubahan komposisi Direksi sepanjang tahun 2018.

Analisis atas Kinerja Perseroan

Kinerja Perseroan sangat dipengaruhi oleh faktor ekternal maupun internal. Kondisi perekonomian merupakan salah satu faktor eksternal yang secara langsung mempengaruhi kegiatan usaha Perseroan. Oleh karena itu, dalam bagian ini juga kami paparkan analisis perekonomian yang berdampak pada kinerja Perseroan.

Analisis Perekonomian

Tahun 2018 merupakan tahun yang penuh tantangan. Setidaknya ada 3 (tiga) hal penting yang perlu dicermati. Pertama, pertumbuhan ekonomi dunia yang pada tahun 2018 diperkirakan sekitar mencapai 3,73% lebih tinggi dari tahun 2017 yang mencapai 3,70% dan kemungkinan akan melandai kembali ke 3,70% pada tahun 2019. Kedua, kenaikan suku bunga bank sentral AS, the Fed, akan diikuti oleh normalisasi kebijakan moneter di Eropa dan sejumlah negara maju lainnya. Meningkatnya tekanan inflasi dan aktivitas ekonomi yang semakin kuat telah menyebabkan stance kebijakan moneter AS yang semakin ketat. Setelah menaikkan Fed-Fund Rate (FFR) yang akan sebanyak 4 (empat) kali sebesar 100 basis point pada tahun ini, the Fed AS kemungkinan akan menaikkan lagi suku bunganya 3 (tiga) kali sebesar 75 basis point pada 2019. Ketiga, ketidakpastian di pasar keuangan global mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara Emerging Markets. Ketiga perkembangan global tersebut berdampak pada kuatnya mata uang dolar AS dan pembalikan modal asing dari negara Emerging Markets, termasuk Indonesia.

Di tengah perkembangan ekonomi global yang tidak kondusif tersebut, Pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan berbagai otoritas lainnya telah mengembangkan sinergi kebijakan yang kuat dalam bauran kebijakan ekonomi nasional. Hal tersebut telah menyebabkan kinerja perekonomian Indonesia pada tahun 2018 cukup baik dengan stabilitas yang tetap terjaga dan momentum pertumbuhan yang berlanjut. Dukungan dan optimisme perbankan, dunia usaha, dan investor juga semakin kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 mencapai 5,17%, lebih tinggi dari tahun 2017 yang mencapai 5,07%. Inflasi sepanjang tahun 2018 tetap rendah dan karenanya mendukung peningkatan daya beli masyarakat. Stabilitas sistem keuangan terjaga ditopang oleh permodalan perbankan yang kuat, risiko kredit yang terkendali, meningkatnya penyaluran kredit, dan likuiditas yang cukup. Perekonomian domestik yang tetap baik ditopang kelancaran sistem pembayaran yang tetap terpelihara, baik dari sisi tunai maupun non tunai.

Stabilitas perekonomian yang terjaga dengan baik, mendorong industri jalan tol tetap tumbuh di 2018. Industri, pengoperasian dan pemeliharaan jalan tol tetap tumbuh sesuai dengan yang ditargetkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sejalan dengan bertambah panjangnya jalan tol, maka jumlah dan model bisnis Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) juga mengalami pertumbuhan di 2018 dan diperkirakan akan terus berkembang ke depannya.

Kinerja Perseroan

Industri jalan tol yang tumbuh dengan baik di 2018, telah ditangkap dengan baik oleh Perseroan. Hal tersebut terlihat dengan pertumbuhan kinerja yang signifikan selama 2018.

Pada tahun 2018, Perseroan telah melakukan ekspansi dengan mengoperasikan 7 (tujuh) jalan tol baru sepanjang 318,75 km berhasil dioperasikan oleh Perseroan di tahun 2018, sehingga hingga akhir tahun 2018, Perseroan berhasil mengoperasikan total kurang lebih 1.000 km jalan tol. Tujuh jalan tol baru yang beroperasi di tahun 2018 adalah:

  1. Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi Ruas Simpang Susun (SS) Tanjung Morawa-SS Parbarakan sepanjang 10,75 km.
  2. Bogor Ring Road Segmen Kedung Badak-Simpang Yasmin sepanjang 2,65 km.
  3. Batang-Semarang sepanjang 75,00 km.
  4. Semarang-Solo Ruas Salatiga-Kartasura sepanjang 32,65 km.
  5. Solo-Ngawi sepanjang 90,43 km.
  6. Ngawi-Kertosono-Kediri Ruas Ngawi-Kertosono sepanjang 87,02 km.
  7. Gempol-Pasuruan Ruas Rembang-Pasuruan (Grati) sepanjang 20,25 km.

Dengan beroperasinya ruas-ruas jalan tol baru di atas, Perseroan juga turut menyumbang pencapaian masif bisnis jalan tol di tahun 2018, yaitu tersambungnya Jalan Tol Trans Jawa dari Merak hingga Pasuruan (Grati). Dari total 933 km Jalan Tol Trans Jawa yang telah beroperasi, Perseroan mengoperasikan 583 km atau sebesar 63% dari total panjang Jalan Tol Trans Jawa saat ini.

Pencapaian kinerja pengembangan yang positif tersebut telah berhasil meningkatkan kinerja keuangan di tahun 2018, Jasa Marga berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,20 triliun, tetap stabil di tengah ekspansi bisnis jalan tol. Hal ini juga didukung oleh keberhasilan Perseroan dalam menjaga pertumbuhan EBITDA yang pada tahun 2018 mencapai nilai Rp6,02 triliun atau tumbuh sebesar 10% dari tahun 2017, sedangkan untuk Margin EBITDA sebesar 61,56%.

Hal ini merupakan pencapaian Jasa Marga untuk tetap menjaga kinerja positif. Dari sisi pendapatan usaha di luar konstruksi tercatat sebesar Rp9,78 triliun, tumbuh 9,67% dari tahun 2017, dengan kontribusi dari pendapatan tol senilai Rp9,04 triliun, naik 9,12% dari tahun 2017 dan pendapatan usaha lain Rp748,12 miliar, naik 16,82% dari tahun 2017.

Pertumbuhan pendapatan tol tetap tumbuh sesuai dengan tren pertumbuhan volume lalu lintas setiap tahunnya secara konsolidasi. Selain itu, ruas-ruas jalan tol baru yang mulai beroperasi dari tahun 2016 hingga 2018 juga telah menyumbang pendapatan tol.

Di sisi lain, ruas-ruas jalan tol baru menyumbang pertumbuhan aset dari sisi Hak Pengusahaan Jalan Tol yang mencapai Rp6,29 triliun atau meningkat sebesar 11,24% dari tahun 2017, sehingga total aset Jasa Marga pada tahun 2018 tercatat Rp82,42 triliun.

Untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk pengguna jalan, Jasa Marga terus melakukan inovasi dalam bidang pelayanan transaksi. Sepanjang tahun 2018 Jasa Marga memberlakukan inovasi dibidang pelayanan transaksi berupa integrasi sistem transaksi yang dilakukan di Jalan Tol Semarang Seksi A, B, C dan Jalan Tol Semarang-Solo (menghilangkan titik transaksi di Gerbang Tol Tembalang) dan integrasi dengan Jalan Tol Semarang-Batang (menghilangkan titik transaksi di Gerbang Tol Manyaran), serta integrasi Jalan Tol JORR (SS Penjaringan-Pondok Aren-Kebon Bawang) dengan tahap pertama integrasi dilakukan pada Jalan Tol Prof. Dr. Ir. Soedijatmo dan JORR W1 (menghilangkan titik transaksi di Gerbang Tol Kayu Besar di Jalur Utama) kemudian dilanjutkan dengan tahap selanjutnya yaitu integrasi Jalan Tol JORR W1, JORR W2U, JORR W2S, JORR S, JORR E1, JORR E2, JORR E3, Akses Tanjung Priok (ATP) dan Pondok Aren-Ulujami (menghilangkan titik transaksi di Gerbang Tol Meruya Utama dan Gerbang Tol Rorotan serta Gerbang Tol Pondok Ranji Sayap Arah Bintaro).

Kendala-Kendala dan Langkah Penyeleseiannya

Dari sisi eksternal, pengadaan tanah masih menjadi kendala Utama dalam penyelesaian pembangunan jalan tol. Namun, dengan diimplementasikannya Undang-undang No. 2 Tahun 2012, kepastian baik dari sisi waktu maupun harga telah mempercepat proses pengadaan tanah.

Hal ini menyebabkan meningkatnya progress pengadaan tanah sehingga Jasa Marga terus aktif melakukan inovasi-inovasi di bidang pendanaan untuk mendukung kebutuhan ekspansi Perseroan. Pada tahun 2017, Jasa Marga telah menerbitkan Sekuritisasi Aset Hak Atas Pendapatan Tol, Project Bond dan Obligasi Komodo. Pada tahun 2018, Jasa Marga kembali melakukan inovasi alternatif pendanaan dengan menerbitkan Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT).

Dari sisi internal, Jasa Marga masih mengalami terus berusaha untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya manusia untuk mendukung proses bisnis Perseroan. Hal tersebut dilakukan dengan melakukan perubahan strategi pengembangan kompetensi yang memprioritaskan kompetensi inti Perseroan. Sejalan dengan hal tersebut, pendekatan yang digunakan dalam pengembangan kompetensi dilakukan melalui 6 (enam) akademi, yaitu: 1) Project Development, 2) Advanced Technology, 3) Business Leadership, 4) Succession Plan, 5) Program Beasiswa, dan 6) Program Mandiri setara Pelatihan. Selama tahun 2018, total pengembangan kompetensi dengan menggunakan pendekatan akademi telah dilaksanakan selama 22.931 hari dan diikuti sebanyak 9.120 peserta. Total program pengembangan kompetensi yang dilakukan sebanyak 418 program. Kegiatan tersebut telah dilakukan secara efektif dan diharapkan bisa mempercepat kaderisasi dan penguasan teknologi dengan baik. Peningkatan sumber daya ini dapat meningkatkan daya saing karyawan Jasa Marga di industri jalan tol.

Analisis Tentang Prospek Usaha

Perekonomian Indonesia yang tetap mengalami pertumbuhan dengan baik merupakan salah satu faktor fundamental bagi Pemerintah untuk mewujudkan penguatan konektivitas nasional. Salah satu upaya untuk memperkuat konektivitas nasional tersebut dibutuhkan penambahan jaringan jalan tol yang merupakan salah satu program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Salah satu target RPJMN adalah menambah panjang jalan tol beroperasi sepanjang 1.000 km.

Sampai dengan saat ini, Jasa Marga masih menjadi pemimpin dalam industri jalan tol di Indonesia. Sampai dengan tahun 2018, panjang jalan tol beroperasi yang dikelola oleh Jasa Marga adalah kurang lebih 1000 km atau 66% dari keseluruhan total panjang jalan tol beroperasi di Indonesia. Jumlah kendaraan yang melewati jalan tol pun sekitar 80% (1,4 miliar) melewati jalan tol yang dioperasikan oleh Perseroan.

Ditetapkannya RPJMN 2015-2019 dan posisi Perseroan dalam industri jalan tol di Indonesia, menunjukkan bahwa prospek usaha Perseroan di masa yang akan datang sangat baik. Di samping panjang jalan tol yang terus bertambah, ada beberapa faktor lain yang membuat prospek industri jalan tol yang dikembangkan Perseroan semakin menarik. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Volume lalu lintas pada ruas tol yang dikelola Perseroan diperkirakan akan tetap tumbuh secara positif, sehingga memberikan jaminan pertumbuhan pendapatan berkesinambungan.
  2. Masa konsesi yang masih panjang dengan waktu terdekat akan berakhir pada tahun 2044 untuk 13 (tiga belas) ruas yang sedang dioperasikan Perseroan.
  3. Jalan tol baru yang terkoneksi dengan jalan tol yang sudah ada, sehingga terdapat potensi peningkatan volume lalu lintas
  4. Adanya potensi penambahan konsesi pengusahaan jalan tol melalui rencana untuk mengambil alih ruas-ruas jalan tol investor lain yang terhenti proses investasinya (akuisisi).
  5. Perkembangan penduduk yang pesat.
  6. Perkembangan industri properti.
  7. Pertumbuhan penjualan kendaraan roda empat yang merupakan pasar terbesar dari pengguna jalan tol.

Perseroan meyakini bahwa peluang-peluang tersebut menjadi faktor pendorong prospek positif Perseroan. Untuk itu Perseroan berencana untuk terus mengembangkan secara selektif ruas-ruas di seluruh Indonesia.

Perkembangan Penerapan Tata Kelola Perusahaan

Kesuksesan pengelolaan sebuah perusahaan sangat dipengaruhi oleh kualitas penerapan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG). Perseroan secara konsisten menerapkan prinsip GCG yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan fairness. Dalam menerapkan prinsip transparansi, Perseroan senantiasa menjamin pengungkapan informasi materiil dan relevan mengenai kinerja, kondisi keuangan dan informasi lainnya secara jelas, memadai, akurat, dapat dibandingkan dan tepat waktu serta mudah diakses oleh stakeholders sesuai dengan haknya. Prinsip keterbukaan ini tidak mengurangi kewajiban untuk melindungi informasi rahasia mengenai Perseroan dan Pelanggan serta Mitra Kerja sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.

Penerapan prinsip akuntabilitas telah diterapkan dengan menjamin kejelasan fungsi, hak, kewajiban, wewenang, dan pertanggungjawaban Jajaran Perseroan yang memungkinkan pengelolaan Perseroan terlaksana secara efektif. Akuntabilitas merujuk kepada kewajiban seseorang atau organ kerja Perseroan yang berkaitan dengan pelaksanaan wewenang yang dimilikinya dan/atau pelaksanaan tanggung jawab yang dibebankan oleh Perseroan kepadanya. Tiap kegiatan dapat diukur tanggung jawab dan ketepatan waktunya, serta memberikan rasa kepuasan bagi Pengguna Layanan Jalan Tol.

Prinsip responsibilitas diterapkan dengan menjamin kesesuaian dalam melaksanakan aktivitas bisnisnya berdasarkan prinsip korporasi yang sehat, pemenuhan kewajiban terhadap Pemerintah sesuai peraturan yang berlaku, bekerja sama secara aktif untuk manfaat bersama dan berusaha untuk dapat memberikan kontribusi yang nyata kepada masyarakat.

Dalam menerapkan prinsip independensi, Perseroan telah menjamin pengelolaan Perseroan secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Sedangkan prinsip fairness telah diterapkan dengan menjamin perlakuan yang adil dan setara dalam memenuhi hakhak stakeholders berdasarkan ketentuan dan peraturan perundang undangan yang berlaku.

Dalam rangka meningkatkan kualitas penerapan GCG, Perseroan senantiasa melakukan asesmen penerapan GCG. Asesmen GCG dapat digunakan sebagai landasan tindakan manajemen agar pelaksanaan GCG dapat dilakukan secara efektif. Asesmen menjadi bagian dari mekanisme check and balances. Dengan asesmen, maka capaian kegiatan dapat diketahui dengan pasti dan tindakan lebih lanjut untuk memperbaiki kinerja suatu kegiatan dapat ditetapkan.

Asesmen GCG dilakukan dengan menggunakan parameter penilaian Kementerian BUMN yaitu SK-16/S. MBU/2012 tanggal 06 Juni 2012 tentang Indikator/Parameter Penilaian dan Evaluasi Atas Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara. Asesmen telah dilakukan oleh pihak independen, sehingga kualitas asesmen diharapkan lebih baik.

Hasil asesmen yang dilakukan di 2019 untuk tahun buku 2018 menunjukkan bahwa skor yang dicapai sebesar 97,82% yang berarti penerapan GCG pada Perseroan pada kondisi Sangat Baik, meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 97,17%. Berdasarkan hasil asesmen, Perseroan telah melakukan tindak lanjut akan hasil rekomendasi asesmen yang meliputi:

  1. Peninjauan ulang Standard Operating Procedure (SOP) sesuai dengan kebutuhan Perseroan.
  2. Peningkatan kualitas Laporan Tahunan.
  3. Pelaksanaan Sharing Knowledge Kepatuhan Emiten sesuai dengan Peraturan Pasar Modal di Marga Lingkar Jakarta sebagai Anak Perusahaan yang merupakan Emiten.
  4. Perubahan Konsultan Pengelola dan Penambahan Saluran Pelaporan Whistleblowing System (email, website, SMS, Whatsapp dan PO BOX).
  5. Sosialisasi Terkait Tipikor bekerjasama dengan KPK.
  6. Melakukan sosialisasi pedoman, kebijakan dan regulasi baru.

Penilaian Kinerja Komite di Bawah Direksi dan Dasar Penilaiannya

Komite Manajemen Risiko merupakan komite yang dibentuk untuk membantu Direksi dalam Menetapkan konteks risiko strategis, Menetapkan kebijakan dan manual Sistem Manajemen Risiko, Menetapkan kriteria risiko strategis serta menetapkan hasil pengukuran kematangan implementasi manajemen risiko di lingkungan Jasa Marga Group. Selama tahun 2018, Komite Manajemen Risiko telah melaksanakan tugasnya dengan baik melalui rapat dengan membahas evaluasi atas kebijakan manajemen risiko Perseroan, reviu atas risiko yang dihadapi Perseroan serta melakukan penilaian risiko.

Komite Pengarah Teknologi Informasi merupakan komite yang dibentuk untuk membantu Direksi dalam penetapan Menyelaraskan Strategi IT dan Bisnis, master plan, tata kelola IT serta mengoptimalkan sumber daya TI. Selama tahun 2018, Komite Pengarah Teknologi Informasi telah melaksanakan tugasnya dengan baik melalui rapat dengan membahas Strategi IT dan Bisnis (Strategic Alignment), Pengelolaan TI Perseroan yang sesuai dengan Master Plan dan Tata Kelola TI dan Pengawasan terhadap proses dan kinerja TI (Performance Measurement) secara periodik.

Perubahan Komposisi Anggota Direksi

Pada periode 2018, komposisi Direksi Perseroan mengalami beberapa kali perubahan sebagaimana penjelasan sebagai berikut:

Jumlah dan Komposisi Direksi Perseroan Sebelum RUPS Tahunan Tanggal 10 April 2018

Jumlah dan komposisi Direksi Perseroan sebelum RUPS Tahunan tanggal 10 April 2018 yaitu Direksi berjumlah 6 (enam) orang yang terdiri dari 1 (satu) orang Direktur Utama, dan 5 (lima) orang Direktur.

Desi Arryani : Direktur Utama
Mohammad Sofyan : Direktur Operasi I
Subakti Syukur : Direktur Operasi II
Hasanudin : Direktur Pengembangan
Donny Arsal : Direktur Keuangan
Kushartanto Koeswiranto : Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum/Direktur Independen

Jumlah dan Komposisi Direksi Perseroan Setelah RUPS Tahunan Tanggal 10 April 2018

Jumlah dan komposisi Direksi Perseroan setelah RUPS Tahunan tanggal 10 April 2018 yaitu Direksi berjumlah 6 (enam) orang yang terdiri dari 1 (satu) orang Direktur Utama, 1 (satu) orang Direktur/Direktur Independen dan 4 (empat) orang Direktur.

Desi Arryani : Direktur Utama
Mohammad Sofyan : Direktur Operasi I
Subakti Syukur : Direktur Operasi II
Adrian Priohutomo : Direktur Pengembangan
Donny Arsal : Direktur Keuangan
Kushartanto Koeswiranto : Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum/Direktur Independen

Jumlah dan Komposisi Direksi Perseroan Setelah RUPS Luar Biasa Tanggal 5 September 2018

Jumlah dan komposisi Direksi Perseroan setelah RUPS Luar Biasa tanggal 5 September 2018 yaitu Direksi berjumlah 6 (enam) orang yang terdiri dari 1 (satu) orang Direktur Utama, dan 5 (lima) orang Direktur.

Desi Arryani : Direktur Utama
Mohammad Sofyan : Direktur Operasi I
Subakti Syukur : Direktur Operasi II
Adrian Priohutomo : Direktur Pengembangan
Donny Arsal : Direktur Keuangan
Alex Denni : Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum/Direktur Independen

Perubahan komposisi Direksi dilakukan dengan memperhatikan visi, misi, dan rencana strategis Perseroan untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang efektif, tepat dan cepat, serta dapat bertindak secara independen.

Penutup

Demikian laporan jalannya kepengurusan Perseroan selama 2018. Direksi memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan memberikan kontribusi terbaiknya, terutama kepada segenap pegawai Perseroan sehingga Perseroan bisa menghasilkan kinerja yang sangat baik sesuai harapan pemegang saham. Kepada segenap pegawai Perseroan, Direksi memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi yang telah diberikan.

Kepada Dewan Komisaris, Direksi mengucapkan terima kasih atas arahan yang telah diberikan, sehingga jalannya kegiatan usaha Perseroan berjalan dengan efektif. Atas kepercayaan pemegang saham, Direksi mengucapkan terima kasih dan akan terus berupaya meningkatkan nilai Perseroan secara berkelanjutan. Kepada mitra kerja dan para pemangku kepentingan, Direksi mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan dukungan yang diberikan.

Direksi berkomitmen untuk tetap mempertahankan posisi Perseroan sebagai Pemimpin industri jalan tol dan mengambil peran penting dalam mendukung program Pemerintah untuk mewujudkan konektivitas Indonesia.

Jakarta, Februari 2019

Atas Nama Direksi


Desi Arryani

Direktur Utama